Rabu, 24 April 2013

kentongan


Alat komunikasi ‘Kentongan’

Kentongan atau yang dalam bahasa lainnya disebut jidor adalah alat pemukul yang terbuat dari batang bambu atau batang kayu jati yang dipahat.
Kegunaan kentongan didefinisikan sebagai tanda alarm, sinyal komunikasi jarak jauh, morse, penanda adzan, maupun tanda bahaya. Ukuran kentongan tersebut berkisar antara diameter 40cm dan tinggi 1,5M-2M. Kentongan sering diidentikkan dengan alatkomunikasi zaman dahulu yang sering dimanfaatkan oleh penduduk yang tinggal di daerah pedesaan dan pegunungan.
Sejarah
Sejarah budaya kentongan sebenarnya dimulai sebenarnya berasal dari legenda Cheng Ho dari Cina yang mengadakan perjalanan dengan misi keagamaan. Dalam perjalanan tersebut, Cheng Ho menemukan kentongan ini sebagai alat komunikasi ritualkeagamaan. Penemuan kentongan tersebut dibawa ke ChinaKorea, dan Jepang. Kentongan sudah ditemukan sejak awal masehi. Setiap daerah tentunya memiliki sejarah penemuan yang berbeda dengan nilai sejarhnya yang tinggi. DiNusa Tenggara Barat, kentongan ditemukan ketika Raja Anak Agung Gede Ngurah yang berkuasa sekitar abad XIX menggunakannya untuk mengumpulkan massa. Di Yogyakarta ketika masa kerajaan Majapahit, kentongan Kyai Gorobangsa sering digunakan sebagai pengumpul warga.
Di Pengasih, kentongan ditemukan sebagai alat untuk menguji kejujuran calon pemimpin daerah. Di masa sekarang ini, penggunaan kentongan lebih bervariatif.
Cara Memainkan
Kentongan merupakan alat komunikasi zaman dahulu yang dapat berbentuk tabung maupun berbentuk lingkaran dengan sebuah lubang yang sengaja dipahat di tengahnya. Dari lubang tersebut, akan keluar bunyi-bunyian apabila dipukul. Kentongan tersebut biasa dilengkapi dengan sebuah tongkat pemukul yang sengaja digunakan untuk memukul bagian tengah kentongan tersebut untuk menghasilkan suatu suara yang khas. Kentongan tersebut dibunyikan dengan irama yang berbeda-beda untuk menunjukkan kegiatan atau peristiwa yang berbeda. Pendengar akan paham dengan sendirinya pesan yang disampaikan oleh kentongan tersebut.
Manfaat Kentongan
Awalnya, kentongan digunakan sebagai alat pendamping ronda untuk memberitahukan adanya pencuri atau bencana alam. Dalam masyarakat pedalaman, kentongan seringkali digunakan ketika suro-suro kecil atau sebagai pemanggil masyarakat untuk ke masjid bila jam salat telah tiba. Namun, kentongan yang dikenal sebagai teknologi tradisional ini telah mengalami transformasi fungsi. Dalam masyarakat modern, kentongan dijadikan sebagai salah satu alat yang efektif untuk mencegah demam berdarah. Dengan kentongan, monitoring terhadap pemberantasan sarang nyamuk pun dilakukan. Dalam masyarakat tani, seringkali menggunakan kentongan sebagai alat untuk mengusir hewan yang merusak tanaman dan padi warga.
Kelebihan
Kentongan dengan bahan pembuatan dan ukurannya yang khas dapat dijadikan barang koleksi peninggalan seni budaya masa lalu yang dapat dipelihara untuk meningkatkan pemasukan negara. Kentongan dengan bunyi yang khas dan permainan yang khas menjadi sumber penanada tertentu bagi masyarakat sekitar. Selain itu, kentongan merupakan peninggalan asli bangsa Indonesia dan memiliki nilai sejarah yang tinggi. Perawatannya juga sederhana, tanpa memerlukan tindakan-tindakan khusus.
Kelemahan
Kentongan masih banyak kita temui dalam masyarakat modern, namun fungsi kentongan sebagai alat komunikasi tradisional memiliki sejumlah kekurangan yang menyebabkan tergesernya kentongan tersebut dengan teknologi modern. Kegunaan kentongan yang sederhana dan jangkauan suara yang sempit menyebabkan kentongan tidak menjadi alat komunikasi utama dalam dunia modern ini.
Era Globalisasi
Di era globalisasi sekarang ini alat komunikasi telah berkembang jauh melebihi batasan pemikiran sebagian besar manusia. Ketiadaan batasan ruang dan waktu membuat orang berlomba-lomba menciptakan beragam penemuan yang lebih praktis dan lebih luas jangkauannya.
              
Kentongan pada masa sekarang digunakan lebih bervariasi seperti digunakan sebagai instrumen musik, namun sampai sekarang masih digunakan sebagai alat komunikasi seperti alat untuk mengumpulkan orang atau member peringatan kepada sekitar. Berikut beberapa sandi kentongan:
1.      Doro muluk
Doro berarti burung dara dan muluk berarti terbang. Terbang yang dimaksud terbang yang tegak ke atas. Bukan terbang biasa. Kentongan dengan nada ini untuk member tahu masyarakat bahwa ada warga yang meninggal. Kentongan doro muluk ada dua jenis yaitu doro muluk dua kali dan doro muluk tiga kali. Doro muluk dua kali jika yang meninggal masih anak – anak dan doro muluk tiga kali untuk yang meninggal orang dewasa. Nada sangat khas. Pukulan pertama dan ke dua ada jeda sesaat. Selanjutnya pukulan ketiga dan seterusnya semakin cepat dengan suara yang melemah, setelah mencapai titik suara terendah ada jeda sesaat terus menguat lagi namun lambat interval pukulannya. Jika yang meninggal dewasa diulangi tiga kali dan kalau yang meninggal anak – anak cukup dua kali. Doro muluk biasanya dilakukan oleh pak lurah dukuh, karena kewenangan mengabarkan kematian itu ada pada pak Lurah dukuh. Maka setiap kali ada suara kentongan seperti ini, warga masyarakat serta merta menghentikan apapun aktifitasnya, sambil mencari dari mana sumber suara kentongan. Kemudian mereka akan tahu warga dukuh mana yang meninggal.
2.      Titir
Kentongan Titir dibunyikan untuk memberitahukan masyarakat ada bahaya mendadak dan sangat berbahaya yang membutuhkan pertolongan cepat dari seluruh warga. Misalnya ada kebakaran rumah, bajir atau bencana alam lainnya. Nada suara kentongan titir, kentongan dipukul secepat – cepatnya tanpa nada tinggi rendah suara. Suara itu mencerminkan kepanikan dari warga. Kentongan titir boleh dibunyikan oleh seluruh warga yang membutuhkan pertolongan.
3.      Kentong sepisan
Kentong sepisan ini dibunyikan untuk memberitahukan kepada seluruh atau sebagian warga untuk berkumpul/klumpukan baik untuk melakukan musyawarah maupun kerja bakti. Nada suara kentong sepisan ini juga terdengar santai dan tenang. Dari keras lalu semakin lemah hingga suara paling lemah kemudia mengeras lagi. Interval antar pukulan juga sangat terasa tidak tergesa – gesa. Kentong sepisan ini bisa dibunyikan oleh pak lurah desa maupun pak lurah dukuh. Tergantung kepentingannya.
4.      Sambang
Kentong sambang ini biasanya dibunyikan pada malam hari menjelang tengah malam dan sesudahnya. Kentong sambang ini bermakna kurang lebih mengabarkan bahwa masih ada yang berjaga/belum tidur. Biasanya setelah seorang warga membunyikan kentong sambang akan segera disambut oleh warga lain yang sama – sama belum tidur.
5.      Gobyog
Kentong gobyog biasanya dibunyikan pada masa – masa tertentu dalam petungan bulan jawa. Saya tidak begitu paham ini bermakna apa. Tapi seingat saya saat memasuki ‘mongso labuh’ ( awal musim penghujan ) dan warga masyarakat mulai menanam, setiap sore menjelang waktu magrib masyarakat beramai – ramai membunyikan ketongan.
Kentongan dengan bentuk yang lebih kecil juga biasa digunakan oleh para pedagang keliling untuk mengumpulkan para pembeli. Contoh tukang siomay dan penjual bakwan kawi yang masih sering terlihat kentongan kecil di gerobaknya dan di bunyikan.
Kentongan juga digunakan sebagai alat musik tradisional yang dikombinasikan dengan berbagai alat musik termasuk alat musik yang sudah modern sekalipun. Contohnya yaitu di daerah Banyumas dan Purbalingga lebih terkenal digunakan sebagai alat untuk bermain musik.
Kedua daerah ini adalah kota kabupaten yang masih tergolong dalam lingkup Povinsi Jawa Tengah. Dua daerah ini terkenal karena telah memajukan seni musik Thek-Thek. Bunyi-bunyian kenthongan yang semula hanya monoton dan tak memiliki nada dasar, kini menjadi suara yang enak untuk didengar dan dirasakan.
Kegiatan menabuh kentongan sendiri berawal dari kebiasaan penduduk yang melakukan ronda, yang biasanya berjumlah 4-5 orang dengan menabuh kenthongan keliling desa. Namun kini, kenthongan atau sering disebut dengan “thek-thek” dapat menjadi seni musik dengan ritme yang indah dan enak didengar tanpa harus meninggalkan nuansa ketradisionalannya. Dan masyarakatpun kemudian mengenal kenthongan juga sebagai alat musik.
Sekarang seni musik Thek-Thek sudah banyak diperlombakan di kedua daerah ini. Jumlah pemaiinnya rata rata 30-an orang, selain kenthongan sebagai alat musik utama, diiringi juga dengan alat musik seperti Bedhug(biasanya 2 buah), Calung, Kecrek, Suling, Teplak dan Angklung. Juga ditambah alat-alat lain agar lebih berirama.Dikomandani oleh seorang Mayoret . Dari segi kostum biasanya para pemain memakai kostum yang seragam dan berwarna yang terkesan “ngejreng” supaya bisa menarik perhatian penonton pastinya. Lagu yang biasanya dibawain yaitu lagu Dangdut dan Campur Sari. Tapi banyak juga lagu pop yang biasa diaransemen para pemain supaya pas dimainkan menggunakan Thek-Thek.
Selain untuk lomba, grup-grup Tek-Tek juga digunakan untuk ajang mencari nafkah. Biasanya ada yang keliling-keliling kampung dari rumah kerumah. Grup-grup Tek-Tek juga banyak yang sudah profesional sekarang, berani meminta bayaran di setiap pentas-pentasnya (biasanya yang grup panggilan). Mereka juga sudah banyak yang tampil di daerah-daerah lain seperti Cilacap, Kroya, Kebumen, Banjarnegara dan lainnya. Mereka selalu mendapat sambutan yang meriah dari masyarakat setempat, karena alunannya yang enak didengar dan lebih terkesan “merakyat” . Disamping berdimensi budaya, seni kenthongan/”thek-thek” memiliki nilai strategis dalam nation and character building berupa nilai-nilai kebersamaan, kesederajatan, kegotong royongan, cinta tanah air, pembinaan kawula muda, serta menggugah semangat membangun melalui syair-syair lagu yang dibawakan. Jumlah grup kenthongan di daerah Banyumas dan Purbalingga jumlahnya sekarang sudah banyak. Bahkan sekarang hampir di setiap desa punya Grup Kentongan sendiri. Beberapa contohnya yaitu Grup Gandrung Laras dari Desa Ciberung Ajibarang, grup Paijo Ajibarang, Debita, Singo Laras, dan banyak lainnya.
Ada pula Guno Tengoro adalah kelompok kesenian musik kentongan tuwo (tua) yang dimotori oleh kelompok tani Gemah Ripah Loh Jinawi dan Muda-Mudi Dukuh Jantran Desa Pilang, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen.

Kentongan kebanggaan Guno Tengoro berumur 200 tahun. Tingginya 2,25 m dan berdiameter dua pelukan orang dewasa. Kentongan raksasa berbobot lebih dari sekuintal  itu difungsikan sebagai bas. Kentongan ini terakhir berada di tangan mantan Lurah Desa Pilang yang memerintah di tahun 1940-an.  
Dalam penampilannya, Guno Tengoro mengusung sedikitnya enam kentongan tua (kasepuhan) sebagai alat musik utama dan dilengkapi seperangkat kentongan bambu (kanoman/ balungan) yang berfungsi sebagai pengisi variasi bunyi (isen-isen).  Kentongan tersebut selanjutnya dimainkan dengan cara ditalu/ ditabuh dengan tongkat kayu dan bambu. Selain itu sebagai penghasil melodi, ditambahkan alat musik gamelan jenis demung atau terkadang saron. 
Kentongan kasepuhan umumnya terbuat dari kayu keras seperti  kayu nangka, trembesi, dan jati. Walaupun sebutannya adalah kentongan kasepuhan - sesepuh / tetua - tapi para penabuh haruslah para pemuda berumur di bawah 25 tahun. Konon, jika penabuhnya sudah uzur, suara yang terdengar tak akan menghasilkan gema. Wallahuallam
Tak ada yang tahu persis kapan mulanya seni kentongan ini muncul. Namun dari cerita rakyat yang beredar, seni kentongan tua ini mulai dikenal warga tak lama setelah pemerintahan Keraton Pajang di Kartasura runtuh.
Ini berarti, seni tabuh kentongan telah ada setidaknya 300 tahun yang lalu. Masih menurut tutur kaum sepuh desa; di masa silam, tetabuhan kentongan - klothekan dalam bahasa setempat - dilakukan saat hajatan panen raya dan sedekah bumi, yang kemudian ditutup dengan gelar wayang kulit. Tak ada yang tahu persis kapan mulanya seni kentongan ini muncul. Namun dari cerita rakyat yang beredar, seni kentongan tua ini mulai dikenal warga tak lama setelah pemerintahan Keraton Pajang di Kartasura runtuh.
Ini berarti, seni tabuh kentongan telah ada setidaknya 300 tahun yang lalu. Masih menurut tutur kaum sepuh desa; di masa silam, tetabuhan kentongan - klothekan dalam bahasa setempat - dilakukan saat hajatan panen raya dan sedekah bumi, yang kemudian ditutup dengan gelar wayang kulit.
Guno Tengoro dibentuk dengan semangat melakukan konservasi atas ragam kesenian lokal khas masyarakat agraris. Karena bernuansa agraris, tak heran jika langgam Jawa yang disajikan dalam tiap pentasnya bercerita tentang siklus perjalanan padi dan petani.
Guno Tengoro ingin mengingatkan khalayak luas tentang perjuangan kaum tani di Indonesia dan menggugah rasa hormat terhadap tanaman padi. Langgam Jawa yang dilantunkan pun berkisah tentang masa-masa sulit pangan di era kolonial (Langgam Caping Gunung), suasana pesta panen di lumbung desa (Langgam Lumbung Desa), ditumbuk kaum ibu dan disajikan untuk makan keluarga (Langgam Lesung Jumengglung), dan kisah padi yang mampu memenuhi kecukupan pakan dan menyejahterakan masyarakat (Langgam Jangan Koro).
Lagu-lagu tersebut, diharapkan menjadi pengingat bagi manusia modern, agar lebih menghargai proses tersedianya pangan di meja makan. Bagi Guno Tengoro, Padi adalah simbol kemakmuran dan kesejahteraan, namun dia tidak begitu saja mudah dicapai. Harus ada pengorbanan dan perjuangan. Selain itu, lagu langgam tersebut seolah hendak mengajarkan tentang ketahanan pangan yang diwarisi dari nenek moyang bangsa Indonesia. 
Guno Tengoro juga membawa misi edukasi historis dengan mengajak bernostalgi tentang peran kentongan di jamannya. Jauh sebelum teknologi informasi berkembang pesat seperti saat ini, kentongan memiliki peran penting sebagai alat berkomunikasi dan penyampai isyarat yang mumpuni.
Maka, di tengah-tengah pertunjukan, Guno Tengoro memperagakan jenis-jenis bunyi kentongan yang mengabarkan tentang suatu peristiwa. Kabar tentang banjir, maling kepergok, hewan ternak hilang, berita kematian, kebakaran, hingga kondisi aman  dapat disampaikan dengan isyarat bunyi ketukan tertentu.  Fungsinya mirip bahasa sandi dari alat Morse di kapal laut.
Bahkan, ini yang tidak diketahui banyak orang, bunyi kentongan dapat digunakan sebagai isyarat oleh kepala desa/ lurah untuk memanggil perangkat desa maupun warganya. Karakter kentongan yang fungsional itulah menjadi alasan bagi penamaan grup Guno Tengoro. Artinya, berguna (Guno) sebagai penanda peristiwa (Tengoro)
Pada prinsipnya, kegunaan kentongan dimasa lalu dan dimasa sekarang  ialah sama yaitu untuk mengumpulkan orang dan memberi tanda atau isyarat.
Sumber :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar